UJIAN TENGAH SEMESTER FILSAFAT ILMU DAN ETIKA
Dosen Pengampu: DR. R. Sally Marisa Sihombing S.I.P., M.Si.
DISUSUN OLEH:
NAMA : ANGELINA THERESIA PASARIBU
NIM : 230903063
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2023
1. Ilmu itu hanya Tuhan yang memiliki dan menciptakannya, sedangkan manusia hanya memohon kepada Tuhan untuk diberikan ilmu.
Pertanyaannya: Apakah Ilmu yang dimaksud dengan keterangan diatas?
Jawaban :
Ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu Ilahi melalui para nabi dan utusan-Nya demi kepentingan umat. Dasar penerimaan kebenarannya adalah kepercayaan terhadap sumber wahyu itu sendiri. Dari kepercayaan ini munculah apa yang disebut dengan keyakinan. Wahyu sebagai sumber pengetahuan juga berkembang di kalangan agamawan. Wahyu adalah pengetahuan agama disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat perantara para nabi yang memperoleh pegetahuan tanpa mengusahakannnya. Pengetahuan ini terjadi karena kehendak Tuhan. Hanya para nabilah yang mendapat wahyu. Wahyu Allah berisikan pengetahuan yang baik mengenai kehidupan manusia itu sendiri, alam semesta, dan juga pengetahuan transendental, seperti latar belakang dan tujuan penciptaan manusia, alam semesta dan kehidupan di akhirat nanti. Pengetahuan wahyu lebih banyak menekankan pada kepercayaan yang merupakan sifat dasar dari agama.
2. Soal :
a) Apa yang dimaksud dengan ontologi, epistemologi, dan aksiologi?
Ontologi
Menurut Jalaluddin dan Abdullah Idi (1998:69) Ontologi adalah ilmu hakekat yang menyelidiki alam nyata ini dan bagaimana keadaan yang sebenarnya.
Suriasumantri (2000) memaknakan ontologi metafisika ilmu mengenai apa yang mau kita tahu, seberapa jauh kita mau ketahui, ataupun, dengan tutur lain suatu analisis filosofi mengenai "terdapat". Analisis ontologis hendak menanggapi pertanyaan, selanjutnya ialah:
a. Apakah obyek ilmu yang hendak ditelaah,
b. Gimana bentuk yang penting dari obyek itu, serta
c. Gimana ikatan antara obyek mulanya dengan energi ambil orang (semacam berasumsi, merasa, serta mengindera) yang menghasilkan wawasan.
Soetriono (2007) berkata ontologi ialah azas dalam mempraktikkan batasan ataupun ruang lingkup bentuk obyek penelaahan (obyek ontologis ataupun obyek resmi dari wawasan) dan pengertian mengenai dasar realita (filsafat) dari obyek ontologi ataupun obyek resmi itu serta alas ilmu yang bertanya apa yang dikaji oleh wawasan serta umumnya berhubungan dengan alam realitas serta kehadiran.
The Lubang Gie (2010) pula beranggapan ontologi merupakan bagian dari metafisika bawah yang menguak arti dari sebuah keberadaan yang pembahasannya meliputi persoalan-persoalan, seperti :
a. Apakah maksudnya terdapat, perihal terdapat?.
b. Apakah golongan- golongan dari perihal yang terdapat?,
c. Apakah watak bawah realitas serta perihal terdapat?,
d. Apakah cara-cara yang berlainan dalam manaentitas dari kategori- kategori logis yang berbeda (misalnya objek- objek fisis, penafsiran umum, abstraksi serta angka) bisa dibilang ada?
Secara sederhana kata Ontologi berasal dari kata Yunani, On:being, Logis:logic, jadi ontologi adalah pemikiran mengenai yang ada dan keberadaannya (Jalaluddin [2013:89].
Epistemologi
Menurut Pendapat dari Jujun Suariasumantari (1990:105) Epistemologi adalah ilmu yang membahas secara mendalam segenap proses penyusunan pengetahuan yang benar.
Epistemologi yaitu untuk menjawab dari mana asal atau sumber sesuatu itu, dan bagaimana cara mendapatkan atau memperoleh sesuatu yang dimaksud. Selain itu, epistemologi juga untuk menjawab sifat, karakteristik dan ciri-ciri tertentu dari segala sesuatu yang sedang diselidiki. (Imam Khanafie Al-Jauharie [2010:4])
Kata Epistemologi berasal dari bahasa Yunani artinya knowledge yaitu pengetahuan. Kata tersebut terdiri dari dua suku kata yaitu logia artinya pengetahuan dan episteme artinya tentang pengetahuan (Amsal Bakhtiar [2013:148]).
Menurut Simon Blackburn dalam The Dictionary of Philosophy, epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/diskusi/ilmu), dan jika diungkapkan berarti cabang filsafat yang bersangkutan dengan asal-usul, hakikat, sifat, dan jenis (Blackburn 2013).
Secara bahasa, epistemologi berasal dari Bahasa Yunani yang asal katanya Episteme artinya "pengetahuan" dan Logos artinya "ilmu". Secara istilah, epistemologi adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang sumber pengetahuan, metode, struktur, dan benar tidaknya suatu pengetahuan tersebut (I Gusti Bagus Rai Utama [2021:7-10]).
Aksiologi
Aksiologi sebagai cabang filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, pada umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan (Soejono Soe Margono [1986:327]).
Menurut Louis Kattsoff (1992:327) Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan.
kata Aksiologi berasal dari kata "Axios" yang berarti "bermanfaat". Ketiga kata tersebut ditambah dengan kata "logos" berarti ilmu pengetahuan, ajaran dan teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai (Jalaluddin [2013:162]).
aksiologi adalah suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia dan menjaganya, membinanya di dalam kepribadian peserta didik. Dengan demikian aksiologi adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai-nilai atau norma-norma terhadap sesuatu ilmu. (Jalius Jama [2008:6,8])
b) Berikan kasus dalam perspektif Ilmu Administrasi Publik terkait penerapan ontologi, Epistemologi, Aksiologi
Kasus mengenai manajemen kebijakan publik
Ontologi: J. Wajong (1962, h. 2) mengungkapkan arti administrasi adalah proses yang pada pokoknya meliputi kegiatan merencanakan dan merumuskan kebijaksanaan politik (formulation of policy) pemerintah dengan jalan menyusun organisasi dengan menyiapkan alat yang diperlukan dan memimpin organisasi agar tujuannya tercapai.
Epistemologi: Secara epistemologi, perubahan makna dari Administrasi Negara menjadi Majemen dan Kebijakan Publik juga berpengaruh terhadap cara bagaimana ilmuwan adminitrasi publik ke depan mengembangkan ilmu ini. Jika selama ini ilmuwan administrasi publik lebih berkutat pada diskusi yang bersifat filosofis tentang administrasi, standar etika dan norma bagi manajer publik dalam menjalankan tugasnya, maka ke depan jika administrasi publik berubah menjadi manajemen publik, orientasi keilmuan dari disiplin ilmu ini lebih bergeser pada hal hal empirical tentang bagaimana mengembangkan keilmuan untuk membantu manajer publik mencapai tujuan organisasi, peningkatan manajerial, dan peningkatan akuntabilitas manajerial (Ambar Widaningrum 2010, h. 20).
Aksiologi: Manajemen dan Kebijakan Publik yang berpengaruh pada nilai guna dari ilmu Administrasi Publik. Tidak sekedar pada tahap administrasi, tetapi
diperluas pada tahap manajerial seperti pengimplementasian kebijakan publik.
Keterlibatan diri dalam realita diperlukan dalam penelitian. Fungsi dari ilmu ini pada intinya sama yaitu guna menciptakan keteraturan dan tata kelola yang baik atau good governance (Fauzan Nur 2010, komunikasi personal, 13 Januari), mengetahui proses kebijakan dan pengelolaannya melalui manajemen publik yang digunakan.
Pada tahap akhir, dapat disimpulkan bahwa ontologi, epistimologi, dan aksiologi yang ada pada ilmu Administrasi Negara yang menjadi Manajemen dan Kebijakan Publik adalah:
1. Ontologinya adalah kenyataan tentang sesuatu yang berhubungan dengan pemecahan masalah instrument kebijakan publik dan proses manajerial dalam pemerintahan.
2. Epistimologi yang digunakan adalah fenomenologi, hermeneutic, dan teori kritis hasil dari kritikan paham positivisme selayaknya ilmu sosial lain dengan metode penelitian kualitatif.
3. Aksiologinya adalah keterlibatan diri dalam realita sehingga berpengaruh pada kegiatan objek yang diteliti.
c) Jelaskan kegunaan dari tiga level ilmu tersebut
Kegunaan Ontologi
Ontologi yang merupakan salah satu kajian filsafat ilmu mempunyai beberapa kegunaan, di antaranya sebagai berikut:
a) Membantu untuk mengembangkan dan
mengkritisi berbagai bangunan sistem
pemikiran yang ada.
b) Membantu memecahkan masalah pola
relasi antar berbagai eksisten dan eksistensi.
c) Bisa mengeksplorasi secara mendalam dan jauh pada berbagai ranah keilmuan maup- un masalah, baik itu sains hingga etika (Susanto, 2015).
Kegunaan Epistemologi
Menurut Jujun S. Suriasumantri menjelaskan bahwa berpikir merupakan aktivitas mental yang dapat menghasilkan suatu ilmu pengetahuan. Diperlukannya metode ilmiah yaitu berupa pengungkapan tata kerja pikiran sehingga memudahkan akal untuk menggerakkan aktivitas berpikir tersebut.
Kegunaan Aksiologi:
Membantu manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang
dinilai (Suwirta, A. [2015]).
3. Bagaimanakah proses pengetahuan berkembang menjadi ilmu pengetahuan? Berikan 10 referensi
Ilmu pengetahuan tidak muncul secara mendadak, melainkan hadir melalui suatu proses mulai dari pengetahuan sehari-hari dengan melalui pengujian secara cermat dan pembuktian dengan teliti diperoleh suatu teori, dan pengujian suatu teori bisa dilakukan dan babak terakhir akan ditemukan hukum-hukum.
(-., Surajiyo. "Sejarah, Klasifikasi dan Strategi Perkembangan Ilmu Pengetahuan." Seminar Nasional Pendidikan Sains IV 2014, Surakarta, Indonesia, 2014. Universitas Sebelas Maret, 2014.)
Terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan di setiap periode ini dikarenakan pola pikir manusia yang mengalami perubahan dari mitos-mitos menjadi lebih rasional (George J. Mouly [1991:87]).
Definisi pemikir Marxis bangsa Rusia bernama Alfens yef menjelaskan ilmu pengetahuan: Science is the society and thought, if reflect the word corecctness, categories and laus the recivied by proctical experince. Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat, dan pikiran. la mencerminkan alam dan konsep-konsep, kategori-kategori, dan kebenarannya diuji dengan praktis.
Kuhn menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan berjalan dalam tiga fase (Thomas Khun, 1962).
bahwa ilmu pengetahuan berjalan dalam tiga fase (Thomas Khun, 1962).
1. Tahap pra-ilmiah dan pra- paradigm Fase ini umumnya ditandai oleh beberapa teori yang tidak sesuai dan tidak lengkap hingga akhirnya salah satu dari teori ini "menang."
2. Tahap Sains normal
Dalam fase ini seorang ilmuwan mengumpulkan banyak teori layaknya kepingan puzzle.
3. Tahap Pergeseran paradigma
proses pergeseran paradigma (shifting paradigm), yakni proses dari keadaan sains normal menuju sains revolusi. Cara pemahaman dan pemecahan persoalan model lama ditinggalkan dan berganti dengan yang baru. Periode ini terjadi melalui pergeseran paradigma ini berkali-kali yang disebut Ekstra Ordinary Science (Sains Luar Biasa), seperti teori-teori baru menggantikan yang lama.
Pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari yang didasarkan pada pengalaman. Kedua Pengetahuan diterima sebagai fakta dengan sikap selalu menghubungkan dengan kekuatan magis. Ketiga, kemampuan menemukan abjad dan sistem bilangan alam sudah menampakkan perkembangan pemikiran manusia ke tingkat abstraksi. Terakhir, keempat, Kemampuan meramalkan suatu peristiwa atas dasar peristiwa- peristiwa sebelumnya yang pernah terjadi (Suaedi [2016:26]).
Proses sistematisasi pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan biasanya melalui tahap-tahap sebagai berikut: 1) Tahap perumusan pertanyaan sebaik mungkin, 2) Merancang hipotesis yang mendasar dan teruji, 3) Menarik kesimpulan logis dari pengandaian-pengandaian, 4) Merancang teknik mentes pengandaian-pengandaian, 5) Menguji teknik itu sendiri apakah memadai dan dapat diandalkan, 6) Tes itu sendiri dilaksanakan dan hasil-hasilnya ditafsirkan, 7) Menilai tuntutan kebenaran yang diajukan oleh pengandaianpengandaian itu serta menilai kekuatan teknik tadi (Elly Malihah,2010).
Keraf berpendapat bahwa penalaran merupakan proses berfikir yang berusaha menghubungkan fakta-fakta yang telah diketahui menuju kepada suatu kesimpulan atau merupakan suatu kegiatan, suatu proses atau suatu aktivitas berfikir untuk menarik kesimpulan. selanjutnya, Perancangan teknik adalah langkah merancang suatu sistim, komponen, atau proses. Hal ini merupakan proses pengambilan keputusan. Dilakukan pengujian teknik, Pengujian dilakukan untuk menjaga validitas dan reliabilitasnya. Kemudian Hasil penelitian perlu ditafsirkan lagi dalam hubungan dengan hipotesis (atau pertanyaan) penelitian dalam pembahasan hasil penelitian. Yang terakhir cara mencari kebenaran, yang di pandang ilmiah adalah yang dilakukan melalui penelitian. Penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu pada ma- nusia dalam taraf keilmuan.
4. Jelaskan perbedaan pengetahuan dengan ilmu pengetahuan! Berikan 5 referensi
Ernest Nagel secara rinci membedakan pengetahuan (common sense) dengan ilmu pengetahuan (science). Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Dalam common sense informasi tentang suatu fakta jarang disertai penjelasan tentang mengapa dan bagaimana. Common sense tidak melakukan pengujian kritis hubungan sebab-akibat antara fakta yang satu dengan fakta lain. Sedang dalam science di samping diperlukan uraian yang sistematik, juga dapat dikontrol dengan sejumlah fakta sehingga dapat dilakukan pengorganisasian dan pengklarifikasian berdasarkan prinsip-prinsip atau dalil-dalil yang berlaku.
2. Ilmu pengetahuan menekankan ciri sistematik. Penelitian ilmiah bertujuan untuk mendapatkan prinsip-prinsip yang mendasar dan berlaku umum tentang suatu hal. Artinya dengan berpedoman pada teori-teori yang dihasilkan dalam penelitian- penelitian terdahulu, penelitian baru bertujuan untuk menyempurnakan teori yang telah ada yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Sedang common sense tidak memberikan penjelasan (eksplanasi) yang sistematis dari berbagai fakta yang terjalin. Di samping itu, dalam common sense cara pengumpulan data bersifat subjektif, karena common sense sarat dengan muatan-muatan emosi dan perasaan.
3. Dalam menghadapi konflik dalam kehidupan, ilmu pengetahuan menjadikan konflik sebagai pendorong untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan berusaha untuk mencari, dan mengintroduksi pola- pola eksplanasi sistematik sejumlah fakta untuk mempertegas aturan- aturan. Dengan menunjukkan hubungan logis dari proposisi yang satu dengan lainnya, ilmu pengetahuan tampil mengatasi konflik.
4. Kebenaran yang diakui oleh common sense bersifat tetap, sedang kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu diusik oleh pengujian kritis. Kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu dihadapkan pada pengujian melalui observasi maupun eksperimen dan sewaktu-waktu dapat diperbaharui atau diganti.
5. Perbedaan selanjutnya terletak pada segi bahasa yang digunakan untuk memberikan penjelasan pengungkapan fakta. Istilah dalam common sense biasanya mengandung pengertian ganda dan samar-samar. Sedang ilmu pengetahuan merupakan konsep-konsep yang tajam yang harus dapat diverifikasi secara empirik.
6. Perbedaan yang mendasar terletak pada prosedur. Ilmu pengetahuan berdasar pada metode ilmiah. Dalam ilmu pengetahuan alam (sains), metoda yang dipergunakan adalah metoda pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedang ilmu sosial dan budaya juga menggunakan metode pengamatan, wawancara, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Dalam common sense cara mendapatkan pengetahuan hanya melalui pengamatan dengan panca indera.
berdasarkan pandangan tokoh tersebut dapatlah dikatakan: ilmu pengetahuan adalah kerangka konseptual atau teori uang saling berkaitan yang memberi tempat pengkajian dan pengujian secara kritis dengan metode ilmiah oleh ahli-ahli lain dalam bidang yang sama, dengan demikian bersifat sistematik, objektif, dan universal. Sedangkan, pengetahuan adalah hasil pengamatan yang bersifat tetap, karena tidak memberikan tempat bagi pengkajian dan pengujian secara kritis oleh orang lain, dengan demikian tidak bersifat sistematik dan tidak objektif serta tidak universal.
Perbedaan:
-Pengetahuan adalah hasil pengamatan yang bersifat tetap, karena tidak memberikan tempat bagi pengkajian dan pengujian secara kritis oleh orang lain, dengan demikian tidak bersifat sistematik dan tidak objektif serta tidak universal. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah kerangka konseptual atau teori yang saling berkaitan yang memberi tempat pengkajian dan pengujian secara kritis dengan metode ilmiah oleh ahli-ahli lain dalam bidang yang sama, dengan demikian bersifat sistematik, objektif. dan universal.
-Ilmu adalah sesuatu yang dapat kita peroleh melalui proses yang disebut pembelajaran atau metode ilmiah dengan kata lain hasil dari pembelajaran, berbeda dengan Pengetahuan yang dapat diperoleh tanpa melalui proses pembelajaran (Lia Aulia fachrial. tanpa tahun: 8)
-Ilmu adalah kumpulan pengetahuan. Namun bukan sebaliknya kumpulan ilmu adalah pengetahuan. Kumpulan pengetahuan agar dapat dikatakan ilmu harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang dimaksudkan adalah objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran, sesuatu hal yang diselidiki atau sesuatu hal yang dipelajari. Objek material mencakup hal konkrit misalnya manusia, tumbuhan, batu ataupun hal-hal yang abstrak seperti ide-ide, nilai-nilai, dan kerohanian. Sedangkan objek formal adalah cara memandang. cara meninjau yang dilakukan oleh peneliti terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya.
5. Jelaskan pendekatan induktif dan deduktif dalam scientific risets! Berikan 5 referensi
Marpaung (2003) diacu dalam Rochmad (2007:110-112) pembelajaran dengan melibatkan pola pikir induktif efektif untuk mengajarkan suatu konsep matematika, dan memberi peluang kepada siswa untuk memahami konsep atau memperoleh generalisasi dengan cara yang lebih bermakna.
Eggen (1979) diacu dalam Samosir (1997:80) mendefinisikan pendekatan induktif sebagai suatu cara mengajar yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep atau prinsip kepada siswa.
Definisi lain dikemukakan oleh Herman Hudoyo (1987) dalam Samosir sebagai suatu cara mengajar yang dikembangkan berdasarkan logika induktif, yaitu berjalan mulai dari yang konkrit menuju yang abstrak.
Menurut Purwanto (2002) diacu dalam Rahmawati (2011:75) pendekatan induktif merupakan pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan sejumlah keadaan khusus kemudian dapat disimpulkan menjadi suatu fakta, prinsip, atau aturan. Pembelajaran diawali dengan memberikan contoh-contoh khusus kemudian sampai kepada generalisasinya.
Menurut pandangan Erliana Hasan (2011:174) "Pendekatan induktif dimulai dari fakta di lapangan, di analisis, dimuat pertanyaan kemudian dihubungkan dengan teori, dalil, hukum yang sesuai kemudian pernyataan hingga kesimpulan." Hal ini menggambarkan bahwa pendekatan induktif merupakan pendekatan yang berangkat dari fakta yang terjadi di lapangan selanjutnya peneliti menganalisis fakta yang ditemukan, membuat pertanyaan dan dikaitkan dengan teori, dalil, hukum yang sesuai dan ditarik kesimpulan.
Pendekatan deduktif hampir sama dengan expository approach. Tenaga pendidik yang menggunakan pendekatan ini mulai dengan menyebutkan hukum, prinsip, atau generalisasi. Ia mulai dengan membuat penyataan yang berhubungan dengan penemuan yang telah ia lakukan atau tentang informasi yang diperoleh sebelumnya. Kemudian peserta didik diminta menggunakan pernyataan tersebut pada masalah yang dimilikinya (Sahabuddin. 2007: 65).
Pendekatan deduktif merupakan pemberian tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemudian dijelaskan dalam bentuk penerapannya atau contoh-contohnya dalam situasi tertentu. Pendekataan ini menjelaskan teoritis kebentuk realitas atau menjelaskan hal-hal yang bersifat umum ke yang bersifat khusus (Yamin, 2013 169).
Menurut Anton M.Moelion odalam Lufri (2000), pendekatan deduktif merupakan
penalaran dari hal yang umum ke hal yang khusus atau penerapan generalisasi pada peristiwa yang khusus.
Winarso (2014:103) "Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan guru mentransfer informasi atau pengetahuan. Pendekatan ini merupakan pemberian penjelasan tentang prinsip-prinsip isi pembelajaran, kemudian dijelaskan dalam bentuk penerapannya atau contoh-contohnya dalam situasi tertentu.
Menurut yamin dalam Hidayat (2015), pendekatan deduktif adalah pemberian tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemudian dijelaskan dalam bentuk penerapannya atau contoh contohnya dalam situasi tertentu. Pendekatan ini menjelaskan secara teoritis kebentuk kenyataan atau menjelaskan hal-hal yang bersifat umum ke khusus.

Komentar
Posting Komentar